Perempuan: Sakit itu Nikmat

Seorang perempuan pakar psikologi - Helen Deutsch - sebagaimana dikutip oleh Zakaria Ibrahim, menulis dalam bukunya tentang psikologi perempuan bahwa, jika kita meneliti kehidupan psikis perempuan, kita akan menyimpulkan bahwa masokhisme, yakni usaha mendapatkan kenikmatan dengan menyakiti diri sendiri, berperan penting pada sebagian besar kehidupannya. Ini sebagai konsekuensi dari struktur biologis perempuan. Unsur masokhisme itu berjalan seiring dengan unsur narsisme, yakni rasa kagum dan bermesraan dengan diri sendiri. Hal ini disebabkan oleh kehidupan psikis perempuan didasarkan atas semacam keserasian atau keseimbangan antara 'cinta diri' dan 'upaya menyakiti diri sendiri'.

Namun, kita sadar - tulis pakar itu lebih jauh - bahwa daya pesona yang berkekuatan besar yang terdapat pada penderitaan adalah disebabkan kehidupan biologis perempuan memberi beban, derita, dan pengorbanan yang besar bagi dirinya. Dengan kata lain, kita dapat mengatakan bahwa menanggung derita dan siap berkorban merupakan hal penting bagi perempuan sebagai konsekuensi dari fungsi reproduksinya. Beban reproduksi yang harus dipikulnya itulah yang menjadikan dia mengalami sirkulasi bulanan, melahirkan, menyusui, mendidik anak, dan sebagainya yang selalu disertai oleh sakit atau derita, tetapi juga kenikmatan.

Ketika perempuan mengalami rasa sakit yang disertai kenikmatan itu, sebenarnya dia telah menggabungkan kedua unsur yang disebut di atas, bahkan kita dapat berkata bahwa bagi perempuan kesabarannya memikul derita lebih kuat dari segala penderitaan yang dipikulnya, lebih-lebih menyangkut anaknya.

~ diambil dari buku "Perempuan", karangan M. Quraish Shihab

PS: Tuhan, terima kasih telah menciptakan air mata.

Semoga jadi PNS... (?)

Pas lagi farewell sama divisi kantor, temen sekaligus partner Toshiba saya, Widuri, nyeletuk, "moga-moga dengan ini bisa kamu terusin kedepannya buat jadi (guru) PNS".

Langsung lah saya potong, "eng, enggak kok, ngga pengen.."

Bahkan di aplikasi IM, di bagian pertanyaan 'Apakah Anda mempertimbangkan untuk menjadi guru jangka panjang?', saya jawab 'tidak'. Yap, saya tidak bercita-cita untuk berprofesi sebagai guru, tetapi menjadi bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar sebagai pengajar muda adalah (salah satu) mimpi saya.

Nah beda kan, beda dong ah ;)

...

Read the rest of this post »

Melangkah (via Sitta Karina's posterous)

 

Alone-girl-walk-on-walking-favim

 

Ketika melangkah, jangan kebanyakan melihat ke atas; nanti bisa tersandung.

Dulu Nia (mendiang nenek) sering berkata begitu.
Namun seiring berjalannya waktu, saya bisa menambahkan bahwa ketika melangkah, jangan juga kebanyakan melihat ke bawah; nanti bisa bertabrakan dengan yang ada di depan kita.
Jangan terlalu sering menoleh ke belakang karena akan mengganggu fokus kita.
Jangan melangkah terlalu santai, sesekali berlari pun tidak mengapa.
Selalu ingat untuk menjaga keseimbangan.
Berlari cepat dalam jangka waktu tertentu bikin kita tahu sampai mana batas diri--dan itu menegangkan sekaligus menyenangkan!
Jangan lupa menoleh ke kanan dan kiri; lihat keindahan dan keragaman yang ada.
Tidak mengapa apabila suatu waktu langkahmu tidak sesuai rencana sebelumnya.
Jangan lupa untuk mengurangi kecepatan, rileks sejenak.
Daaan... jangan lupa rayakan sampai di mana kamu berada kini ;-)

Gambar: favim.com/image/133886/

 

something to remember...